Pendidikan merupakan suatu kebutuhan yang sangat penting untuk setiap manusia. Sebenernya gak cuma manusia, tapi juga hewan seperti kucing dan anjing. Cuma yang membedakan manusia mempunyai ranah kognitif yang jauh lebih tinggi dibanding hewan. Manusia bisa berpikir jangka pendek dan jangka panjang, serta mereka juga dapat memikirkan akibat dari perbuatan yang mereka lakukan. Setiap manusia juga mempuyai skema berpikir yang unik. Pendidikan menurut KBBI adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik. Dari pengertian tersebut bisa kita lihat bahwa pendidikan digunakan sebagai sarana untuk mengembangkan sikap dan tata laku menjadi lebih baik atau berkembang dari sebelumnya. Jika berbicara mengenai pendidikan pedagogi kita pasti membicarakan 2 unsur pelaku dalam suatu lingkup pendidikan yaitu guru dan murid.
Tugas guru adalah memberikan informasi induk atau dasar kepada para murid sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh murid. Hal ini karena murid ibaratkan gelas kosong yang harus diisi oleh informasi-informasi dasar yang nantinya dapat mereka kembangkan sendiri. Guru juga sebenernya mempunyai tugas untuk memimpin jalannya diskusi dikelas, agar mereka belajar mengenai sharring pikiran antar murid.
Tugas murid adalah mencari ilmu yang mereka butuhkan.
Sebenarnya kedua tugas tersebut sudah jelas. Akan tetapi yang jadi permasalahan, para guru ingin sekali menjadikan para muridnya menjadi seorang ahli dalam semua bidang. Padahal faktanya setiap guru rata-rata hanya menguasai 1 bidang ilmu. Bagaimana dengan murid? Padahal yang dibutuhkan murid rata-rata bukan untuk menjadi seorang ahli, melainkan untuk dapat mengaplikasikan pelajaran yang didapat dari sekolah dalam kehidupan sehari-hari.
Pasti sebagian besar dari kalian juga merasakan ini: Murid harus mau menjadi yang guru inginkan, bukan murid harus menjadi yang murid inginkan.
Saya juga agak resah ketika melihat beberapa oknum guru kadang egois tidak mau untuk menerima saran atau kritik dari murid. Sebab oknum guru tersebut mempunyai mindset bahwa Guru Maha Benar dan kurang mau untuk menerima kritik serta mengevaluasi dirinya. (Kurang Profesional)
Kadang saya juga prihatin mendengar lulusan SMA yang mengatakan sekolah itu untuk mendapat ijazah atau untuk mendapat ilmu?. Kok saya mendapat ilmu, hanya sedikit saja yang digunakan. Malah yang lebih sering digunakan adalah ilmu SD yaitu penambahan, pengurangan, perkalian, pembagian dan sebagainya atau malah lebih banyak mendapatkan ilmu dari organisasi.
Sebenarnya kita senang karena Lulus/Ijasah/Ilmu yang kita dapat?
Coba kita renungkan, apakah semua materi yang diajarkan dibangku sekolah kita ingat sampai sekarang? Jika kita ditanya oleh saudara/orang tua kita "apa pengalaman menyenangkan kamu disekolah saat SD/SMP/SMA? " pasti banyak dari kita yang menjawab diluar ranah akademik atau mungkin diranah akademik (bagi segelintir orang yang berprestasi) tapi orang-orang yang berprestasi tersebut belum tentu ingat semua pelajaran yang ia pelajari dahulu. Hal ini karena anak-anak tidak menikmati nikmatnya pendidikan, mereka akan lebih menikmati ranah diluar pendidikan. Mereka juga dibiasakan untuk mengingat bukan untuk memahami.
Saran saya buatlah suatu model pembelajaran yang interaktif dan asik agar setiap murid dapat menikmati nikmatnya pendidikan yang dilakukan, manfaatkan semua pemikiran kognitif setiap murid karena setiap dari mereka memiliki pemikiran yang unik dan berhentilah menjadikan setiap murid menjadi seorang ahli tapi seorang yang mampu memahami serta yang paling penting jangan Baper kalau dikritik murid.
Jika seorang murid mampu untuk menikmati nikmatnya pendidikan, pasti hampir semua pelajaran dia pahami walaupun tidak sempurna karena kapasitas otak manusia yang terbatas.
Komentar
Posting Komentar